banner blog aing

Sabtu, 13 Oktober 2012

Positivisme August Comte


Positivisme merupakan paradigma ilmu pengetahuan yang paling awal muncul dalam dunia ilmu pengetahuan. Keyakinan dasar aliran ini berakar dari paham ontology realisme yang menyatakan bahwa realitas ada (exist) dalam kenyataan yang berjalan sesuai dalam hukum alam (natural laws). Upaya penelitan, dalam hal ini adalah untuk mengungkapkan kebenaran realitas yang ada dan bagaimana realitas tersebut senyatanya berjalan
Dibawah naungan payung positivisme, ditetapkan bahwa objek ilmu pengetahhuan (scientific proporsition) haruslah memenuhi syarat-syarat , yaitu: dapat di/teramati (observable), dapat di/terulang (repeatable), dapat di/terukur (measurable), dapat di/teruji (testable) dan dapat di/teramalkan (predictable). Syarat tersebut 1 s/d 3 merupakan syarat-syarat yang diberlakukan atas objek ilmu pengetahuan, sedangkann dua syarat terakhir diberlakukan atas proposisi-proposisi ilmiah karena syarat-syarat itulah, maka paradigma  positivisme ini sangat bersifat behavioral., operasional dan kuantitatif.
Paradigma positivisme telah menjadi pegangan para ilmuwan untuk mengungkapkan kebenaran realitas. Setelah positivisme ini berjasa dalam waktu yang cukup lama (+400), kemudian berkembang sejumlah ’aliran’ paradigma baru yang menjadi landasan pengembangan ilmu dalam berbagai bidang kehidupan.
Metodologi positivisme.
Metodologi merupakan isu utama yang dibawa positivisme, yang memang dapat dikatakan bahwa refleksi filsafatnya sangat menitikberatkan pada aspek ini. Metodologi positivisme berkaitan erat dengan pandanganya tentang objek positif. Jika metodologi bisa diartikan suatu cara untuk memperoleh pengetahuan yang sahih tentang kenyataan, maka kenyataan dimaksud adalah objek positif.
Objek positif sebagaimana dimaksud Comte dapat dipahami dengan membuat beberapa distingsi atau antinomi, yaitu antara ‘yang nyata’ dan ‘yang khayal’; ‘yang pasti’ dan ‘yang meragukan’; ‘yang tepat’ dan ‘yang kabur’; ‘yang berguna’ dan ‘yang sia-sia’; serta ‘yang mengklaim memiliki kesahihan relative; dan ‘yang mengklaim memiliki kesahiahan mutlak’. Dari beberapa patokan “yang factual” ini, positivism meletakan dasar-dasar ilmu pengetahuan hanya yang fakta objektif. Jika faktanya adalah “gejala kehidupan material”, ilmu pengetahuannya adalah biologi. Jika fakta itu “benda-benda mati”, ilmu pengetahuannya adalah fisika. Demikian juga banyak bidang kehidupan lain yang dapat menjadi objek observasi empiris yang secara regoruos menjadi objek ilmu pengetahuan.
Atas dasar prmikiran ini, bagi Comte, ilmu pengetahuan yang pertama adalah astronomi, lalu fisika, lalu kimia, dan akhirnya psikologi (biologi). Masing-masing ilmu tersebut, memiliki sifat dependennya, dalam hal ini ilmu yang lebih kemudian bergantung pada yang lebih dahulu. Belajar ilmu fisika tidak akan efektif tanpa mempelajari lebih dahulu astronomi. Belajar psikologi tidak efektif tanpa lebih dulu belajar kimia, begitu seterusnya. Demikian ini karena fenomena biologi lebih konfleks dari pada astronomi.
Mengenai matematika, meski Comte sendiri seorang ahli matematika, namun ia memandang bahwa matematika bukan ilmu; ia hanya alat berpikir logic. Bagi Comte matematika memang dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena, namun dalam praktiknya, fenomena ternyata lebih kompleks.
Antinomy-antinomy yang dibuat Comte di atas kemudian diterjemahkan ke dalam norma-norma metodologi sebagai berikut:
1.      Semua pengetahuan harus terbukti lewat rasa-kepastian (sense of certain) pengamatan yang sistematis yang terjamin secara intersubjektif.
2.      Kepastian metodis sama pentingnya dengan rasa-kepastian. Kesahihan pengetahuan ilmiah dijamin oleh kesatuan metode.
3.      Ketepatan pengetahuan kita dijamin hanya oleh bangunan teori-teori yang secara formal kokoh yang mengikuti deduksi hipotesis-hipotesis yang menyerupai hokum.
4.      Pengetahunan ilmiah haris digunakan secara teknis. Ilmu pengetahuan memungkinkan control teknis atas proses-proses alam maupun sosisal… kekuatan control atas alam dan masyrakat dapat dilipatgandakan hanya dengan mengakui asas-asas rasionalitas, bukan melalui perluasan buta dari riset empiris, melainkan melalui perkembangan dan penyatuan teori-teori.
5.      Pengetahuan kita pada prinsipnya tak pernah selesai dan relative, sesuai dengan sifat relative dan semangat positif.
Atas pandangan diatas, menurut Comte metodologi penelitian yang harus digunakan dalam proses keilmuan adalah observasi, eksperimentasi,kemudian komparasi.yang terakhir ini digunakan, terutama untuk melihat hal-hal yang lebih komplek, seperti biologi dan sosiologi.[1]

Ciri khas filsafat positif.
Ciri khas pertama filsafat positf adalah bahwa ia menganggap semua fenomena tunuk pada hukum-hukum alam yang sama. Urusan kita adalah mengupayakan suatu penemuan akurat atas hukum-hukum itu dengan tujuan memerasnya ke dalam jumlah terkecil yang dimungkinkan. Dengan berspekulasi tentang penyebab-penyebab, kita bisa dengan mudah memecahkan persoalan tentang asal mula dan tujuan. Urusan kita sesungguhnya adalah menganalisis secara akurat keadaan-keadaan fenomena dan mengaitkan mereka berdasarkan hubungan-hubungan alami berupa pergantian dan keserupaan. Gambaran paling jelas tentang hal ini adalah dalam kasus ajaran gravitasi. Kita mengatakan bahwa fenomena umum alam semesta dijelaskan olehnya sebab ia menghubungkan seluruh varietas fakta-fakta astronomi yang sangat luas berdasarkan satu hal: menunjukan kecenderungan konstan atom-atom antara satu dengan yang lain berdasarkan perbandingan langsung dalam hal massanya dan melalui perbandingan terbaik dalam hal kuadrat jaraknya. Sementara fakta umum hanyalah perluasan dari sesuatu yang sangat kita kenal, dan karenanya kita katakana telah kita ketahui-bobot badan di permukaan bumi. Tentang bobot dan gaya tarik, kita tak bias melakukan apa pun terhadapnya sebab ia sama sekali bukanlah materi pengetahuan. Para teolog dan metafisikawan bisa saja membayangkan dan menyempurnakan persoalan itu, namun filsafat positif menolak upaya seperti itu. Ketika upaya apapun dilakukan untuk menjelaskan keduanya, upaya itipun hanya berkhir dengan pernyataan bahwa gaya tarik adalah bobot universal dan bahwa bobot adalah gaya tarik bumi: yakni, dua satuan fenomena itu identik; yang hal itu merupakan titik yang dari situ persolaan dirumuskan.[2]
Penggolongan ilmu
Menurut Comte setiap ilmu memberikan sumbangan bagi filsafat positif
a.       Ilmu-ilmu diatur sesuai dengan urutannya dalam memberikan sumbangan bagi positivisme: 1. Matematika (arithmatika, geometri, mekanika), 2. Astronomi, 3. Fisika, 4. Kimia, 5. Biologi, 6. Sosiologi, 7. Etika.
b.      Sosiologi adalah ilmu yang lebih komplek dan bergantung pada ilmu-ilmu yang mendahului, khususnya biologi dengan pengenalannya atas benda-benda organic.
c.       Psikologi, etika dan ekonomi tidak dapat terpisah dari sosiologi.[3]
Penutup.
 Jadi bahwa positivisme itu sangat membantu dalam proses keilmua khususnya dalam bidang yang bersifat fisik, karena dengan positivisme ilmu dapat memiliki peranya dan menemui keaktualan suatu ilmu, dan ilmu itu bersifat behavioral., operasional dan kuantitatif.


[1] Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar, 2004), 109-111
[2] Henry D. Aiken, Abad Ideologi:Kant, Fichte, Hegel, Schopenhauer, Comte, Mill, Spencer, Marx, Mach, Niethzsche, Kierkegaard,  (Yogyakarta: Relief, 2009),150-151
[3] Ali Mudhofir, Kamus Filsuf Barat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), 103

1 komentar:

semoga ini membantu tugas dari dosen saya,,, trima kasih

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More